Minggu, 22 April 2018

RAHASIA KITA


    Rahasia itu mungkin hanya kita yang tau juga Tuhanmu dan Tuhaku juga alam semesta.
Sebelumnya kita tak berencana untuk memiliki sebuah rahasia atau yang berhubungan dengan rahasia. Namun ada saja hal yang tak terduga menjadikan adanya rahasia itu. Semua berawal dari keterbukaan yang tanpa sengaja menjadikan sebuah cerita yang menciptakan cerita-cerita menarik lainnya
Lucunya dari sekian banyak cerita yang kita ciptakan mengapa cerita ini yang sulit pergi dari pikiran kita dan membawa kita pada tahap ini
Ketika kau membaca ini mungkin kau akan tertawa sembari mengayunkan senyum tipis dan mengingat sebagian kecil kejadian ini dipikiranmu untuk memutar sedikit memori kecil tentang rahasia kita. Kuharap kamu tertawa sembari malu-malu HAHAHA
Tentu saja cerita ini tidak disengaja atau yang berhubungan dengan itu. Hanya saja naluri kemanusiaan selalu ada.
Awalnya kita bukanlah siapa-siapa, bukan sesuatu yang spesial untuk siapapun cuman kita agak sedikit sok dispesialkan oleh siapa saja HAHAHA

  Saat bertemu setelah bertahun lamanya kita pasti berharap sesuatu akan berbeda, nyatanya kita tetap sama saja tak ada bedanya. Hanya saja kau terlihat canggung saat kita bertemu kembali. Itu Kulihat dari matamu yang memancarkan sinar kebahagiaan.
“Ini rumah mantanmu bukan?” Katamu membuka cerita malam itu
Kulirik kau agak sedikit layas. Semacam ada hawa yang membuat tubuhku menjadi panas malam itu.

“Urusannya samamu apa!” Jawabku ketus yang sebenarnya sungguh malas untuk dibicarakan.
“Enggak ada sih, cuman memastikan saja”. Jawabmu sambil senyum-senyum

   Tak terasa cerita malam itu cukup panjang hingga kita lupa tujuan kita. Dan aku merasa malam itu adalah malam dimana kita bisa melepas rindu yang sudah sekian lamanya. Rokokmu hampir habis menyisakan beberapa batang lagi, kopimu mulai dingin yang menyisakan ampas kepada pagi.

“Tidurlah” Katamu dengan lembut
“Iya, sedang mencoba” Jawabku singkat
“Selamat malam” Ucapmu padaku
Selengkung senyum lebarku untuk membalas kata-katamu malam itu

Pagi menjelang ...
Udara pagi agak sedikit menyejukkan hidung agar sejuknya bisa kita rasakan bersama. Rahasiapun akan dimulai, tidak tahu kita termasuk dalam kategori apa pada saat ini yang kenyataanya kita memang bukan siapa-siapa. Entah angin apa yang membawa kita hingga melangkah sampai disini

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanyaku takut-takut
“Menatapmu dengan jarak yang lebih dekat” Jawabmu dengan tersenyum

  Ya memang benar. Jarak kita pada saat itu tak berjarak. Kau mendekatiku dan memelukku dengan erat seolah tak ingin pergi bersama pagi. Wajahmu menatapku seolah berbicara tentang keterpisahan yang lama dan kau mengecupku dengan lembut kurasakan kehangatan tubuhmu. Nafasmu seolah bergerak mencairkan tubuhku yang kaku dan kau mencium bibirku dengan tatapan mata yang berani membuat bumi berputar sedikit lambat pada porosnya. Mungkin saat itu kita berfikir bahwa kita sedang bermimpi tetapi kelihatan nyata.

“Sudah cukup, aku gugup!” Bisikku padamu
“Kau terlihat lucu saat gugup.” Kau tersenyum dan mengecup keningku. Dan kita tertawa bersama
“Kau takut?” Tanyamu lagi
“Iya “ Jawabku
“Aku tidak terburu-buru, tenanglah” Katamu meyakinkan dan mendekapku

   Sejak rahasia itu dimulai kita semakin dekat dan terasa menjadi satu. Kita sudah mulai berani berargumen, kita sudah mulai menunjukkan ketertarikan, kita juga sudah mulai berani menunjukkan hal-hal konyol yang sedang kita lakukan dan kejahatan-kejahatan kecil sering kita lakukan bersama

   Seiring berjalannya waktu kita semakin dekat yang menjadikan kita spesial diantara kita dan begitu seterusnya. Tetapi kita bukan siapa-siapa kita tak ada ikatan hanya saja dulu kita saling membenci sementara waktu terus berjalan kita tak lagi mengingat itu.

  Keinginan untuk saling memiliki itu belum ada. Kita masih takut untuk memulai yang ujungnya akan menyakiti hati lagi dan lagi, kita tak pernah memaksakan satu sama lain. Kita menjadi jauh seperti ini kusebut itu karena kita memang tidak spesial. Kadang ingin sekali kita bertanya dan menanyakan dihadapan diri sendiri atau dihadapan kita “Apakah kita saling mencintai???”
Yayaya...
Lagi dan lagi akan menjadi rahasia kita karena sebelum-sebelumnya kita pernah punya kehidupan lain sebelum kita bertemu dan kehidupan itu membuat kita berfikir untuk tidak menyakiti hati lagi dan lagi.
  Ini akan selalu menjadi rahasia Kita, rahasia Tuhan dan rahasia Semesta yang telah mempertemukan kita dibumi ini. Belum saatnya kita bercerita lagi tentang rahasia yang kita lalui bersama tetapi percayalah akan ada waktu dan tempat untuk kita mengenang rahasia kita.

“Kamu percayakan?” Tanyaku dalam hati

   Sejak saat itu aku ingin meminta maaf bahwa aku sudah berani melakukan kejahatan kecil kepadamu. Aku sungguh ingin meminta maaf sudah berani menjanjikan rahasia yang tak seharusnya menjadi rahasia kita.

Kamu lelaki hebat yang pernah kutemui dikehidupanku yang paling berharga karena kamu benar-benar konyol. Kamu pria hebat dengan berjuta tingkah aneh yang membuatku selalu melebarkan senyum setiap kali bertemu. Kamu pria hebat yang mengajarkan hal-hal kecil tentang menghargai orang lain dan kamu pria hebat yang pernah kutemui mampu menahan rasa gengsi agar terlihat mampu  dalam segala hal yang ternyata kamu adalah pria manja (hahaha Kamu lucu), kamu adalah pria yang pernah merusak lipstikku dihari minggu dan kamu juga pria yang berani melalui rahasia ini bersamaku mungkin hahaha.

   Dua pintaku diakhir cerita ini pertama biarlah ini akan menjadi rahasia kita sekarang, esok dan selamanya lebih tepatnya seiring berjalannya waktu. Dan aku belum benar-benar mencintaimu karena kamupun belum benar-benar ada keberadaannya. Janji-janji yang pernah kita ceritakan sebelum tidur menjelang jangan henti sampai disitu saja. Kedua tolong kamu putar lagu kesukaanku diplaylistmu lagu “Float Sementara” dan bila mana kita bertemu lagi ijinkan aku berdansa denganmu sebelum kamu, kita menjadi orang asing. Terimakasih untuk Kamu yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ini.  

-Tolong maafkan aku sudah berani menciummu tanpa label apa-apa-

Senin, 06 Maret 2017

REVOLUSI CINTA

Saat itu ibadah hampir selesai. Kuperhatikan seseorang yang sedari tadi memandangiku. Aku beranggapan dia seperti ingin bertanya namun rada takut. Ahh, aku membiarkan dia tak kupedulikan dia. Saat itu aku butuh Tuhan untuk membantuku untuk memenuhi permintaanku.

Amin.. Kataku dalam hati.

Aaa! Aku terkejut bukan main, orang yang tadinya kupandangi ternyata dia sudah didepanku. Hampir kuucapkan kata kasar padanya. Sial ucapku dalam hati. 

Sam : Kak, boleh aku bertanya? Oh iya sebelumnya kenalin namaku Sam.

Bunga : Oh iya boleh, emangnya ada apa adik? Namaku Bunga.

Sam : Wah, nama yang bagus ya kak. 


Bunga : Yeah. Oh iya kamu mau bertanya tentang apa? 

Sam : Kakak pernah kecewa? Atau patah hati? 

Aku menghela nafas panjangku, ku arahkan pandanganku ke salib itu. Tepat disini, kita pernah bertemu beberapa tahun lalu. Dan anak ini mengingatkanku padamu. Ucapku dalam hati.

Bunga : Semua orang pernah merasakan kecewa dan juga patah hati. Ngomong-ngomong kamu kenapa bertanya begitu?

Sam : Rasanya kecewa seperti apa ya kak? Terus rasa patah hati itu bagaimana lagi?

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Fvck..

Bunga : Rasanya berbeda-beda. Ada enaknya ada enggaknya.

Sam : Sebegitu susah rasanya ya kak?

Bunga : Rasa kecewa itu sangatlah sakit tak bisa dikatakan dengan apapun. Kau akan merasa dirimu hanyalah tikus percobaan. Kalau patah hati rasanya seperti harapanmu direnggut oleh orang-orang yang bahagia. Begitulah kira-kira.

Sam : Jadi kakak pernah merasakan keduanya?

Bunga :  Sekaligus

Sam : Terus kakak gak kenapa-kenapa?

Bunga : Kalau aku kenapa-kenapa, aku gak akan bisa menjawab pertanyaanmu. Kenapa kamu bertanya seperti itu?

Sam : Terlalu banyak orang-orang yang ku temui dengan jawaban berbeda-beda. Aku bertanya kepada kakak dan jawaban itu berbeda. Menurutku jawaban kakaklah yang paling singkat dan tepat. Kecewa sama dengan bahagia dan patah hati sama juga dengan bahagia.

Bunga : Bagus. Aku kira kau takkan paham dengan ucapanku.
Anak ini selalu mengingatkanku pada sosokmu yang misterius. Aku hampir kehilangan memori tentangmu. 

Waktu terus berjalan tak pernah berhenti. Pernah suatu saat aku beranjak dari tidurku. Dan pergi entah kemana, sejenak kupandangi kota ini yang sudah banyak menyimpan kebersamaan kita dulu. 
Mungkin kota ini tak bisa menuliskannya satu per satu. Secercah harapan dikepalaku datang, 
kuputuskan aku menusuri kota ini dari awal kita bertemu hingga kita tak lagi seperti dulu.

Hampir 3 jam lebih kujalani kota ini hingga malam tiba. Kudapati sisa-sisa kenangan kita dulu saat kita duduk berdua dan kau tiba-tiba menyuruh pergi hanya karena dia kau lihat di sudut kejauhan. Aku tersenyum. Kulanjutkan perjalananku menuju tempat lainnya dikota itu, dan aku membutuhkan konsentrasi penuh untuk memutar memori itu lagi.

Kuingat kembali ditempat ini, untuk pertama kalinya kita memulai percakapan. Aku tersenyum. Aku pergi lagi ketempat lainnya dimana kita pernah tertawa tanpa pernah menghiraukan orang disekitar kita.
Aku melaju lagi ketempat dimana aku pernah tertawa  lebar saat membohongimu.

Aku terus melaju dimana kita pernah tertawa disepanjang jalan ini menikmati malam dingin dikota ini. Dan seterusnya dan seterusnya hingga dimana kita berhenti untuk tak mengulang itu semua.
Orang-orang takkan pernah tau seberapa dekatnya kita, seberapa terikatnya kita, seberapa pentingnya kau bagiku dan seberapa besarnya rasa ingin memiliki bagi kita.

Ya, kadang cerita tak perlu dituliskan tak perlu dibicarakan dan tak perlu diceritakan pada orang yang hanya meng-angguk- anggukkan kepalanya dan berkata ‘ohh".
Terkadang kau adalah alasan dimana aku merasa kalau kita akan bersama. Terkadang kau adalah kekuatan bagiku dimana aku ingin terlihat gagah dan tangguh dimata mereka. Tapi aku tau aku manusia bukan siapa-siapa yang nyatanya berfluktuasi didalam kehidupan.
______

Aku tak tau apa yang akan terjadi besok. Dan nyatanya aku kembali bertemu dengan pangeran kecilku yang bernama Sam.
Ditempat yang sama dan aku tersenyum. Dia menemuiku dengan girangnya. Dan mengecup pipiku untuk mengucapkan 'Selamat Hari Minggu’. Kami duduk bersama dan menghabiskan waktu didalam gereja yang mempertemukan kami.

Sam : Kak, menurutmu cinta itu berevolusi gak?

Aku yang hendak ingin membaca alkitab tiba-tiba rasanya seluruh badanku remuk akan pertanyaannya.
*Tuhan, apa yang harus kujawab. Jika aku saja tak pernah tau apa itu arti cinta. Yang selama ini aku melakukannya sendiri dan tak berbalas*

Sam : Kak, kakak gak dengar aku bertanya?

Bunga : Ha? Oh, kamu bertanya apa?

Sam : Ah, kakak. Aku nanyak menurut kakak cinta itu berevolusi gak? Dengan wajah merajuknya sama seperti caramu merajuk

Bunga : Cinta itu tak berevolusi, dia semacam air yang terus mengalir kemana saja dia mau kemana saja dia suka. Selagi mampu mencintai dia akan terus mencintai, dia akan mengisi lembar per lembar dalam teorinya yang menunjukkan kalau dia itu adalah kedamaian bukan kebencian. Menyatukan rasa secara emosional bukan menyita waktu. Ahh semacam itulah aku gak tau apa yang baru saja kuucapkan

Sam : Jadi, cinta itu seperti itu ya kak?

Bunga : Gak. Tergantung caramu memulainya dari mana dan menjadikan dia seperti apa. Tak usah kau pikirkan, ingat saja teori air selagi masih mampu meng-airi dan menga-aliri lautan sungai dan semacamnya temukankan tempat yang nyaman dan tak menjadi bencana. Ah, terlalu banyak perkataanku. Nikmatilah

Sam : Sebenarnya aku baru saja memulai dan aku merasa tak mungkin untuk berhenti jadi kuputuskan untuk terus berjalan mencari yang menjadikanku baik dan lebih baik.

Bunga : Nah? Itu tau.

Amin.. Suara pendeta membuyarkan percakapan kami malam itu digereja.

_____

Aku tersenyum mendengar perkataannya berharap dia akan baik-baik saja dengan cinta yang dia punya.
teringat perkataanya tadi, aku baru saja memulainya dan tak mungkin aku berhenti. Senyumku melebar.

Sam : Kak, makasih ya udah mendengar semua pertanyaanku. Kuharap kakak menjadi cinta yang baik buatku. Sampai jumpa dilain waktu.

_____

Aku baru saja terbangun dari kenyataan ternyata aku baru sama memulai perjalanan imajinasiku, melihat jam yang masih pukul 02.00 dini hari menunggu mata terpejam.

Yaya sampai jumpa dilain waktu juga yang hanya bertemu didalam imajiku ucapku.

#SleepingAtLast

Sabtu, 10 Desember 2016

PAMIT




Kebanyakan orang datang dan pergi meninggalkan lukanya kepadaku tanpa permisi dan tanpa pamit juga tanpa mengetuk. 

Untuk keberkian kalinya orang-orang itu datang lagi dan membawa lukanya padaku yang memang terkhusus untuk luka-luka itu. 

Pertanyaanku adalah kapan mereka bosan padaku. Pada luka-luka yang telah mereka dapati dari orang-orang yang mereka sayangi. Entahlah. Padahal aku saja bosan. 

Seterusnya seterusnya dan seterusnya...

Seterus sikap dan perilakunya padaku. Yang enggak membuatku mudah untuk menerima kembali. Jika kutuliskan daftar kekecewaan itu mungkin 100 lembar kertas takkan cukup atau mungkin kertas-kertas itu tak sanggup menahan beban-beban huruf yang kutuliskan 

Kalo boleh aku berkata 'aku bosan mendengar luka-luka yang mereka dapati itu dan disinggahkan padaku dengan diakhiri tanda titik (.) 
Lalu aku juga boleh berkata 'untuk keberkian kalinya aku bosan mendengar ucapan-ucapannya untuk berubah 

Terus aku boleh berkata lagi, sekali lagi habis itu sudah. 

Untuk kesekian kalinya aku selalu gagal memberi sesuatu yang istimewa untuknya. Sesuatu yang istimewa itu yang datang dari hatiku yang tulus untuk membuatnya tersenyum tanpa harus berada didekatnya setiap episode-episode dikehidupnya.

Salah? 

Aku rasa yang salah itu dari mereka-mereka yang selalu menerima luka-luka yang didapati dari orang-orang yang mereka sayangi dengan sangat. 

Lalu salahku apa? Salah aku yang punya hati tulus? Salah aku yang berniat untuk membuat orang lain bahagia? Ahh, entahlah.. Entah dimana salahnya. 

Ketika aku berkata begitu mereka yang datang padaku lalu pergi itu diam sejenak. Memandangiku dengan penuh binar-binar dan linang air mata. 

Lalu aku menghapus air mata mereka, memeluk mereka seolah-olah aku tak butuh batu sandaran. Aku memeluk erat mereka seolah-olah mereka itu adalah dia yang kuharapkan bisa bersamaku saat ini bahkan sampai menua kelak.

Aku melepas pelukan itu dan berkata..
Ada saatnya hatimu berkata cukup untuk membahagiakan hatimu yang rapuh
Ada saatnya hatimu berdiam diri untuk melupakan rasa kekecewaan 
Ada saatnya hatimu tidur untuk memilih memulihkan serpihan yang porak-poranda itu

Mereka memelukku semakin erat dan menangis sekuat mungkin. Bahuku lelah menampung beban mereka sementara hatiku masih tertidur dengan tenang. 
Mereka menangis terisak-isak sementara mataku kehilangan jarak bayangnya yang terlalu sibuk mencari yang terbaik dari bayangan lain yang bukan aku 

Aku pamit dari hatimu yang habis didera oleh kebisingan rinduku yang tak beraturan dan kebisingan mulutku yang tak henti-hentinya bercerita tentang apa saja

Aku pamit dari ilusi-ilusi rinduku yang tak mungkin dilihat oleh matamu 

Aku pamit.. 


-Editor hati frans-


Senin, 08 Agustus 2016

KUPU KUPU NEBULA





Telah lama aku berharap pada apa yang sama sekali tak terharapkan. Telah lama aku menunggu segala apa yang tak pantas ditunggu. Terlalu membuang waktu untuk apa yang tak pantas diberi waktu. Entah dinamakan dengan apa semua itu. Tapi aku terus mencoba tanpa letih berfikir semua akan menjadi baik semuanya. Kubiarkan semua racun-racun itu menggerogoti pikiranku serta waktuku, menghabiskan sisa-sisa jam yang berjalan untuk menggantikan hari berikutnya. Siapa sangka ternyata itu membuatku terpental hingga keluar dari bumi ini. Aku gelap tanpa cahaya , pupil mataku mengecil-membesar untuk mencari cahaya tapi tak kunjung ada.


Aku gelap

Aku gelap

Aku dalam kegelapan


Waktupun berjalan hingga bertahun-tahun gelap itu tak pernah berubah menjadi terang. Aku belum terbangun dari hibernasi ini. Terpuruk dengan gelap dan dinginnya udara serta sedikitnya oksigen yang aku punya. Tekanan ini terlalu menyiksaku.


Aku dalam kegelapan.  

   
Aku rindu merasakan panasnya matahari, membludaknya debu-debu jalanan, ributnya angin yang saling berkejaran, tetesan setiap air hujan yang turun, dan kriminal yang sering terjadi padaku. Sesekali aku rindu gelang yang kugunakan ditangan kiriku serta sepatu kets yang selalu menemani kaki mungilku pergi kemana-mana. Aku tak punya sosok lain selain kegelapan ini, kegelapan yang semakin mengikatku untuk tetap selalu bersama. 


Mungkin dibumi sana masih ada harapan untuk melihat terang dan hangatnya matahari.
Aku rindu bagian dimana aku berperan dibumi sebagai ruang terbaik yang pernah ada. Aku tak biasa dengan kegelapan ini tak ada siapa-siapa disini hanya gelap yang ada tapi berkat tahun-tahun yang telah berjalan aku semakin terbiasa dengan gelap ini. 


Telanjang didalam kegelapan bukan bagian yang paling menyenangkan untukku dan ini adalah kenyataan. Aku bisa mendengar, aku bisa merasakan sesuatu yang ingin menjamahku, aku bisa menyentuh luasnya sayap-sayap dimana aku terdampar, tapi aku tak bisa melihat terang. Aku bisa mendengarkan percakapanmu dibumi. Dimana kau masih menginginkannya, dimana kau masih berbicara dengannya itu sebabnya aku berada jauh dari bumi. Jauh bumi jauh langit, omong kosong. 

Parade apa lagi yang akan kau permainkan. Aku belum bosan, aku menunggu. Tenang saja aku masih memiliki jantung yang sehat untuk kita bermain. Dan pastikan kau mengetahui permainan itu jangan sampai terjebak kembali sebab permainanmu tidak semudah rubik yang menarik. Aku yakin permainanmu melebihi sebuah rubik. Oleh karena itu aku berani menunggu. 


Entah hari apa dibumi saat ini yang pasti bukan harimu. Kuharap kau terjaga disana dan ku harap aku bisa segera keluar dari kegelapan ini. Sesekali aku mendengar suaramu bersamanya dan kau masih diliputi kenangan lama bersamanya. Semoga itu hanya lintas imaji ku saja. Zat feromon dalam tubuhku membludak ingin sekali rasanya aku tak ingin memiliki zat ini agar aku bisa tak merasakanmu.


Aku masih berada jauh dari bumi. Tapi aku melihat seisinya sangat tenang dan seolah tak ada apa-apa. Aku mungkin penemuan yang baru saja ditemukan oleh orang lain orang yang berada diluar bumi ini, mungkin!

Aku melihatnya dikejauhan aku bisa merasakan kesendirian yang dia alami. Tapi aku tak bisa bergerak. Kedua tanganku serasa mati rasa tak mampu untuk bergerak. Seperti kepakan sayap kupu-kupu yang kaku.


‘’Halo..Kau baik-baik saja? Kuharap kau baik-baik’’


‘’Tidak, tidak seperti yang kau harapkan. Aku buruk.’’


‘’Kenapa kau buruk? Bukankah ada aku terlihat lebih menyenangkan?’’


‘’Tidak!’’


‘’Kenapa?’’


‘’Kau jauh, kita tak mungkin bisa saling melihat. Kita hanya bisa mendengar. Ingat itu baik-baik”.  Tapi tunggu dulu.. Kau tahu aku ada disini dari mana?’’


‘’Ha-ha-ha. Kita tidak hanya bisa mendengarkan saja. Aku bisa merasakan keberadaanmu disini. Diruang kegelapan ini aku merasa kita akan menjadi lebih baik ketika kita saling berbicara walaupun tak saling melihat. Bukankah begitu?’’


‘’Kau benar juga. Aku baru menyadarinya, ngomong-ngomong makasih sapaan mu. Kenalkan aku Nebula, aku tak tau berasal dari mana yang pasti saat aku membuka mata aku berharap aku adalah terang dalam sebuah ruangan. Kamu siapa?


‘’.....’’


‘’Hei.. Kau mendengarkanku?’’


‘’Eee..Ya. Ya. Aku mendengarkanmu Nebula. Namaku? .... ‘’


‘’Siapa? Siapa kau? Kenapa kau berhenti berbicara? Kenapa kau lupa namamu? Ada apa denganmu?’’


‘’Panggil saja aku Bu.’’


‘’Apa? Bu ?’’


‘’Yaaaa’’


‘’Ahh.. itu tak baik. Tak kan ku panggil kau dengan sebutan Bu itu. Bagaimana kalau namamu kuganti menjadi Kupu-Kupu? Aku yakin kau berada dan terbang diatas sana yang ingin sekali menyentuhku.’’

‘Hmm.. Boleh, pilihan nama yang bagus sekali.’’

Begitulah percakapan itu terjadi. Awal perkenalan yang baik. Sedikit tak membosankan. Semakin hari semakin sering percakapan itu terjadi hingga aku lupa bahwa aku masih berada dalam kegelapan ini. Aku tak mengenalnya tapi keakraban itu ada dan nyata, kebersamaan itu ada, dan seolah-olah semua adalah nyata yang ada. 

Apa kabar bumi? Aku mendekatkan telingaku dan mendengarkan percakapanmu dengannya. Kalian terlihat nyata, terlihat saling mencari, terlihat semakin meng-ada-kan keberadaa kalian. Aku? Aku tak tau harus berkata apa aku sipemilik kata-kata indah itu bisa kehabisan kata. Caramu bercerita dengannya sangat terpancarkan harapan akan kebersamaan kembali, terpancar tanpa isyarat akan adanya keber-ada-annya aku padamu. Aku semakin menajuh dari bumimu. Tangisku tak dapat tertahan, tangisku adalah hujan dibumi yang tak dipahami oleh bumimu.

Aku mulai merasakan hal aneh yang terjadi. Kesialan-kesialan yang lama ku pahami kini jelas terlihat. Akulah sipencipta kesialan dalam diriku, akulah pelaku biadap itu, akulah kegelisahan itu, akulah kesalahan semuanya. Terkutuklah aku.

Hancur, bubar, meledak!

Aku terpental semakin jauh aku semkain kehilangan jejakmu kepakkan sayapku terbangun dan membentang luas aku mengelilingi kegelapan ini. Sebuah sinar terpancar seperti bintang yang menungguku untuk mengelilinginya. Aku menyesal!

Aku mencari Nebula. Aku memanggil-manggilnya tapi tak ada sahutan. Aku butuh Nebulaku. Nebulaku menghilang, tanpa jejak dan tanpa pamit.

(Nebula.. Nebula.. Nebula)

Dimana tempat kita bertemu lagi? Aku tak mau menunggu hingga menua.

‘’Kupu-kupu?’’

‘’Nebula?’’

‘’Dengarkan pesanku  baik-baik. Mungkin kita takkan pernah saling melihat tapi percayalah kita pasti saling menemukan teruslah terbang disana jangan pikirkan bumimu jadilah pancaran indah di luar bumi yang dapat dibanggakan. Jadilah sang penjaga disana, jangan berharap untuk terus tertidur. Jangan menunggu apapun hingga kau menua jangan lakukan itu. 

Jadilah kupu-kupu nebula terbaik diantariksa jauh dari bumi yang dapat memancarkan cahayanya untuk menenangkan bumi. Untuk menjaga bumi dan menjaganya juga jika perlu. 

Aku kupu-kupu nebula terbaik yang pernah ditemukan diluar bumi, selamat menikmati kehidupan diantariksa tanpa mengikuti jejakmu lagi, tanpa melihatmu lagi, tanpa menunggumu lagi. Kepakan sayapku telah terbangun kini aku terang, kini aku memaknai hidupku, kesialan itu telah berubah menjadi penjaga hati yang paling berhati-hati. Aku telah terbangun dari tidurku yang bertahun-tahun, pertanyaanku Dimana lagi akan kudengar suaramu? Dimana lagi Nebula ku berada?. Aku terbangun dengan sangat hati-hati tanpa menghapus jejakmu yang terlihat samar dari antariksa.

Selasa, 23 Februari 2016

SEBUAH PERJUANGAN



Seseorang datang kepadaku bertubuh tinggi dan kurus
berambut panjang berwajah tirus dan tampan dengan 
tampang lusuh dan seperti agak menyesal

Aku, yang sedari tadi duduk memandang layar ponselku
berharap orang yang bersamaku menghubungiku setelah 
beberapa bulan lalu kami tak saling mengucap 'Hai'

Dengan gaya casual lelaki bertubuh kurus itu duduk tidak
jauh dari bangku yang kududuki
keheningan terjadi hampir beberapa menit
setelah anjing melolong panjang, Dia pun membuka suara

'Mau sampai kapan menunggu'
'Maaf, anda bicara dengan siapa?' Sembari melirik sekitar
'Sama orang yang barusan saja menjawab'
'Oh, maksudnya menunggu apa?'
'Menunggu layar ponselmu menyala lalu mati kembali'
'Sampai menyala lalu aku akan berhenti memandanginya'
'Begitu sajakah'
'Apa urusanmu soal layar ponsel yang menyala dan mati kembali!'
'Menunggu tak sesabar itu, mungkin saja dia lupa atau...'
'Atau apa!'
'Atau dia tak peduli padamu, siapa yang tau gadis mungil'
'Itu bukan urusan anda, lagi pula anda siapa saya'

lelaki itu bertepuk tangan di keheningan malam

'Brisik!'
'Ya..ya.. itu dia, lagi pula anda siapa saya?'

Aku mengerutkan kening

'Lagi pula anda siapanya dia?' Jika pertanyaan itu dibalikkan 
ke kamu gadis mungil. Apa jawabanmu?

Aku diam sejenak , menghela nafas yang panjang

'Karena aku bukan siapa-siapanya' 
'Yaps, kamu benar cantik. Kamu bukan siapa-siapanya
 berhentilah mengepakkan sayap jika kau takut terjatuh saat terbang
 berhentilah berharap jika harapan itu sudah jauh dan menghilang
 itu akan akan membuang waktumu. Jika dia datang kembali sambutlah
 dengan senyuman, kamu hidup cantik'
'Iya, aku tau. Tapi...'

Lelaki itu menghilang begitu saja entah kemana, aku mencari
kesegala arah tak ada satupun yang kutemukan 

'Hei'
'Halo, apakah kau mendengarku!'

Tak ada jawaban sedikitpun. Aku berbalik dan ... ahh aku terjatuh 

'Itu luka bukan? Jika iya apa yang harus kau lakukan'
'Mengobatinya'
'Ya, segeralah obati lukamu'
'Caranya! Tidak segampang yang kau ucapkan bangsat!
'Caranya mudah cantik, jangan mencoba berpura-pura'

"Maksudmu? berpura-pura apa?'

'Berpura-pura tidak tau akan keberadaan dia'
'Ya, dia ada namum absurd. Sama seperti mu tak berwujud 
 namun bersuara
'Iya, inilah perjuanganku kepadamu gadis mungil, tak terlihat 
 namun ada. Melihatmu dari kejauhan, ingin memelukmu namun 
 tak bisa. Sebregsek itukah aku?
 Berjuang tapi tak terlihat itu seperti roh yang mengikuti badan'

'Maksudmu? kenapa jadi begini?'

'Aku pernah mencoba untuk sembunyi dari kata berjuang
 tapi aku tak bisa. Kau terus mengikutiku. Hingga suatu malam
 kau memukuliku dengan keras tak punya hati
'Ahh, aku tak paham apa yang kau katakan.
'Namun aku..
'Stop! aku paham sekarang, berjuang yang kau bilang tak harus 
 terlihat. Tapi tau kah kau berjuang itu selalu menghasilkan buah
 tapi ini tidak. Aku berkata saja wujudmu tak ada. Lalu berjuang
 yang kau ucapkan itu apa? 
'Berjuang itu iklas, tak harus terlihat namun merasakan. Tak
 harus ada tapi berarti gadis mungil. Berjanjilah berjuang untuk
 iklas tak harus ada dan dilihat. Berjuangku ini tak pernah 
 mengenal waktu. 

Terdengar suara dari kejauhan, dan ternyata ponselku berbunyi
suara itu mengalihkan pembicaraan kami. Seketika itu juga
sosok lelaki  itu pergi entah kemana